oleh

Nasir Abbas: Jangan Sampai NKRI Menjadi Kacau, Jangan Sampai Salah Melangkah

-Daerah-53 views
SLEMAN, METROHEADLINE.NET

Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) DIY mempunyai jurus jitu untuk menanamkan ideologi Pancasila di kalangan anak muda atau milenial. Salah satunya melalui program “Sinau Pancasila dan Wawasan Kebangsaan”.  Acara yang digelar di Caping Ndeso Resto Tamantirto Kasihan Bantul, Kamis (21/4/2022), tersebut diikuti puluhan mahasiswa dan karang taruna warga sekitar dengan antusias.

Divisi Humas Polri Bidang Humas Polda DIY dan Direktorat Binmas Polda DIY hadir dalam kegiatan tersebut.  Narasumber berasal dari akademisi UIN Sunan Kalijaga, Dr. Moh. Tamtowi, M.Ag., perwakilan FKPT DIY, Prof. Zuly Qadir, anggota DPRD DIY, Boedi Dewantoro, S.H., M.Si., dan Kesbangpol DIY, Dewo Isnu Broto Imam Santoso, S.H., Divisi Humas Polri menghadirkan mantan pimpinan jaringan teroris Asia Tenggara, M. Nasir Abbas.

Dalam paparannya, Dewo Isnu Broto mengatakan, terkait perkembangan ekonomi sosial dan politik di Indonesia dalam beberapa waktu belakangan ini, bangsa Indonesia tengah tidak baik-baik saja. Artinya, maraknya fenomena pertikaian antarkelompok konflik, antara identitas, kriminalisasi, dan intoleran terhadap keberagaman agama yang ada di media massa, sehingga kebencian perbedaan semakin lama semakin tumbuh di tengah-tengah masyarakat.

Menurut Dewo, bangsa kita telah mengalami krisis multidimensi yang saling terkait dan berdampak sistemik timbulnya perpecahan dan ancaman disintegrasi bangsa. Ini merupakan masalah yang sangat strategis mengingat bangsa Indonesia memiliki wilayah dan sumber daya yang strategis

“Melalui kegiatan Sinau Pancasila ini, kita kuatkan kembali (iman kita) ke dalam wawasan kebangsaan. Kemudian, dengan pemahaman yang mendalam kita akan mampu memutus mata rantai lingkaran yang mengganggu integritas bangsa Indonesia,” ujarnya.

Ia menambahkan, kegiatan tersebut terlaksana karena adanya kerja sama antara pemerintah daerah, Polri, dan TNI.

“Dan, tentunya disupport oleh perguruan tinggi yang ada di Yogjakarta dan DPRD sehingga kegiatan bisa berjalan dengan baik,” tambahnya.

Sementara itu, mantan pimpinan teroris Asia Tenggara, M. Nasir Abbas, yang sekarang menjadi konsultan program kontra radikalisme dan deradikalisasi, mengatakan, demi menjaga Pancasila, kita harus tahu virus-virus apa yang mengganggu Pancasila, yaitu radikalisme.

“Kalau program deradikalisasi sendiri adalah orang-orang yang terpapar yang sudah masuk ke dalam kelompok (jaringan terorisme) tersebut yang sudah menjadi pelaku radikalisme ataupun terorisme kemudian kita ajak kembali untuk mencintai NKRI,” ujarnya.

Saat ini, menurut Nasir, yang menjadi ancaman Indonesia adalah radikalisme, yaitu ingin mengubah Pancasila dan dasar negara. Masalah terorisme dan radikalisme itu adalah masalah di semua bangsa. Orang yang menyalahartikan agama menjadi kekerasan. Islam bukan terorisme. Muslim bukan teroris, tetapi ada oknum yang kemudian mengatasnamakan agama tersebut.

“Jika ada ajakan untuk mengubah sistem Indonesia, maka itu dipastikan adalah radikalisme. Paham atau radikal dengan cara kekerasan, maka dia jelas terlibat dalam radikalisme. Kita harap keluarga kita atau orang yang kita sayangi jangan sampai terpapar. Mudah-mudahan Allah swt. melindungi kita semua. Jangan sampai NKRI menjadi kacau. Jangan sampai kita salah melangkah,” kata Nasir mewanti-wanti. (Joko S.)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed