oleh

Ketum Yusuf Rizal Ajak Wartawan Perangi Radikalisme, Intoleransi, dan Hoaks

-Daerah-32 views
YOGYAKARTA, METROHEADLINE.NET

Pengurus Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Perkumpulan Wartawan Media Online Indonesia (PWMOI) resmi dilantik oleh Ketua Umum (Ketum) Dewan Pimpinan Pusat (DPP) MOI, H.M. Yusuf Rizal. Pelantikan tersebut dilaksanakan di makam para raja di Imogiri, Bantul, Sabtu (20/8).

Yusuf mengatakan, pentingnya memahami visi dan misi PWMOI dalam konteks mengawal perjalanan NKRI ke depan. Ia menyampaikan hal tersebut dalam upaya mengangkat marwah dunia pers di Tanah Air, lantaran bangsa Indonesia dinilai kalah dalam menangkal tersebar luasnya pemahaman radikalisme, hoax, dan provokasi intoleransi.

Dia berpendapat, revolusi industri membuat gamang masyarakat. Begitu pula di dunia pers dalam mengantisipasi perubahan dari media mainstream ke media online. Oleh karena itu, ia mengajak seluruh pengurus dan anggota PWMOI DIY untuk melakukan langkah visioner dan revolusioner dalam rangka membangun bangsa, memperkuat budaya, dan mengantarkan generasi penerus bangsa ini. Upaya membangun bangsa ini harus disertai langkah-langkah visioner dan revolusioner.

“Kalau tidak nanti kita hanya akan menjadi alat eksploitasi masuknya informasi liberalisasi. Kita tidak siap untuk itu, kita gampang membuat berita sharing. Kalau beritanya salah, begitu berita dilepas, maka tidak bisa ditarik kembali.  Sama dengan anak panah keluar dari busurnya, tidak akan pernah kembali,” katanya mengingatkan.

Yusuf pun berharap, PWMOI DIY menjadi wadah berkumpulnya para wartawan yang memiliki jiwa pendidik, beretika, dan bermoral. Sebab, idealisme tersebut merupakan bagian dari tugas mulia seorang jurnalis. Wartawan tidak bisa sembunyi dari berita yang tidak benar. Kalau dia menjadi idealis karena ada idealisme di situ.

Dia juga mengingatkan, ukuran kesejahteraan yang melekat pada seorang wartawan belum tentu sejalan dalam mengemban profesionalisme kerja-kerja jurnalistik. Kritis demi kemajuan bangsa selamanya mereka hanya akan bersembunyi di balik grey area, yang seperti itu seringkali terjebak dia bukan lagi menjadi wartawan, dia menjadi kapitalisme pers.

“Wartawan seperti itu sudah dibeli, tidak berani lagi membicarakan sesuatu yang kritis buat bangsa ini, tidak berani bicara tentang kebenaran, tidak berani lagi berbicara amar ma’ruf nahi mungkar. Mungkin dia hanya bersembunyi di grey area. Di sana OK, di sini OK,” katanya.

Ia kembali menekankan, radikalisme dan intoleransi memecah-belah bangsa ini. Oleh karenanya, dia sangat mengapresiasi kehadiran PWMOI DIY dan berharap DPW MOI DIY bisa mendorong percepatan transformasi dan reformasi, serta mampu memerangi berita hoax.

“Kita dulu tidak terpolarisasi justru kita terprovokasi. Kita sebagai jurnalis kadang-kadang tidak istiqomah pada kepentingan-kepentingan. Jurnalis juga ada beban yang lain. Untuk itu, saya berpesan kepada DPW PWMOI DIY bisa menjadi pioneer. Saya juga mendorong wartawan yang tergabung di dalamnya bisa menjelaskan kepada publik mengenai urgensi pers maupun integritas jurnalis dalam mengawal keberlanjutan pembangunan nasional,” tutupnya. (Joni Chan)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed