oleh

Bupati Sleman dan Wakilnya Panen Ikan Budi Daya Sistem Bioflok

-Daerah-93 views
SLEMAN, METROHEADLINE.NET

Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo, bersama wakilnya, Danang Maharsa, melakukan panen ikan budi daya sistem bioflok di Kampung Mina Padi Samberembe, Rabu (3/3).

Kustini menjelaskan, program budi daya ikan sistem bioflok cukup signifikan untuk meningkatkan produksi perikanan di Kabupaten Sleman.

“Teknologi budi daya ikan sistem bioflok adalah suatu teknik budi daya melalui rekayasa lingkungan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas air melalui penyeimbangan karbon dan nitrogen,” jelasnya.

Sistem bioflok memiliki padat tebar tinggi sekitar 500 ekor per meter kubik, sedangkan kolam biasa sekitar 200 hingga 250 ekor per meter kubik. Hal ini jelas meningkatkan keuntungan, terbukti untuk satu kali musim panen bioflok sekitar 6 juta rupiah selama 3 bulan atau satu siklus panen dibandingkan dengan cara konvensional yang menghasilkan sekitar 2, 4 juta rupiah hingga 3 juta rupiah.

Menurutnya, sebanyak 70% produksi perikanan DIY disuplai oleh produksi perikanan Kabupaten Sleman. Terbukti dalam kurun waktu 2014 sampai dengan 2019 produksi ikan konsumsi di Kabupaten Sleman meningkat rata-rata 16,89% per tahun.

Ia menambahkan, berbagai teknologi telah dikembangkan di Kabupaten Sleman untuk meningkatkan produksi perikanan, di antaranya budi daya ikan dengan sentuhan teknologi kincir (Sibudi dikucir), minapadi, budi daya udang dengan padi (Ugadi), budi daya ikan gurami dengan sistem booster dan budi daya ikan dengan sistem bioflok untuk ikan lele.

“Untuk teknologi yang kita panen saat ini adalah teknologi bioflok untuk ikan lele. Bioflok di Kabupaten Sleman ada 6 lokasi pengembangan, yaitu Kapanewon Pakem, Prambanan, Sleman, dan Depok,” tambahnya.

Kepala Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Kabupaten Sleman, Heru Saptono, mengatakan, pendekatan pembangunan pertanian saat ini didorong untuk pengembangan berbasis kluster atau kawasaan. Pemkab Sleman telah menginisiasi masyarakat untuk mengembangkan kolam bioflok.

“Keunggulan teknologi ini adalah hemat air, tidak berbau, sistem aerasinya membuat kondisi air menjadi ideal untuk pertumbuhan bakteri sebagai sumber makanan ikan. Sementara untuk budi daya lele konvensional cenderung berbau sehingga perlu pergantian air secara periodik dan air menjadi boros, sehingga cocok dikembangkan di wilayah perkotaan,” jelasnya. (Joni Chaniago/Hms)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed