Penguatan Peran Bidan Penting untuk Penegakkan Hak atas Layanan Kesehatan Reproduksi Perempuan dan Kesehatan Seksual

Jakarta,metroheadline.net-Setiap tahun sejak 1992, Bidan, perempuan, remaja perempuan, mitra, dan pendukung bidan di seluruh dunia merayakan rekognisi atas kontribusi dan karya bidan di tanggal 5 Mei. Tahun ini, tema yang diangkat adalah Bidan sebagai pembeia hak asasi perempuan. Ikatan Bidan Indonesia (IBI) didukung oleh UNFPA Indonesia dan Global Affairs Canada (Kanada) menyelenggarakan seminar dalam rangka memperingatl Hari Bidan Internasional 2019 di Jakarta.

Kanada senang dapat bermitra dengan UNFPA dan UNICEF untuk berupaya menegakkan hak atas layanan kesehatan seksual dan reproduksi bagi perempuan dan remaja di Indonesva, melalui Program BERANI, termasuk untuk meningkatkan kualitas bidan sehlngga mengurangl angka kematian ibu.

Pada Juni 2017, Kanada meluncurkan Kebijakan Bantuan Internasional Feminis, yang mengidentiflkasi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan dan anak perempuan sebagai landasan bantuan dan cara terbalk untuk mengurangl kemiskinan. Sebagai bagian dari keterlibatan Kanada dalam kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan dan anak perempuan, Kanada berkomltmen $ 650 juta secara global selama tiga tahun untuk meningkatkan kesehatan dan hak-hak seksual dan reproduksi bagi semua orang, termasuk $ 8 juta di Indonesia melalul Proyek BERANI.

Bidan sebagai tenaga kesehatan strategis, berada pada garis terdepan dalam pelayanan Kesehatan Ibu & Anak, Kesehatan Reproduksi Perempuan dan Keluarga Berencana.

Bidan telah berperan besar terhadap penyelenggaraan layanan kesehatan terutama untuk kesehatan reproduksi perempuan dan kesehatan seksual, termasuk di masa pasca bencana. Namun ada data yang menunjukkan bahwa upaya peningkatan masih dlbutuhkan untuk menjawab kebutuhan akan layanan kesehatan reproduksi perempuan dan kesehatan seksual yang komprehensif untuk pemenuhan hak asasi, khususnya bagi perempuan, bayi, balita, dan remaja.

IBI memiliki anggota sebanyak 324.515 bidan yang tersebar di seluruh propinsi di Indonesia. Bidan adalah mitra kesehatan keluarga dan masyakarat, khususnya untuk kesehatan ibu dan bayl.

Hal ini sejalan dengan Filosofi bidan sebagai mitra perempuan, memenuhi hak perempuan dalam kondisi apapun.

 

Bidan juga merupakan penyediaan layanan Keluarga Berencana (KB), layanan kesehatan anak balita serta berperan dalan meningkatkan kesadaran masyarakat mengenal kesehatan. Mereka berperan sebagai penyedia Iayanan kesehatan, pendidik, penggerak peran serta masyarakat pemberdayaan perempuan dan pelibatan masyarakat untuk kesehatan, serta sebagai pembuat keputusan. Delapan puluh lima persen pemeriksaan kehamiIan, 62,70 %. persalinan, termasuk pelayanan KB dilakukan oleh bidan (Riskesdas, 2018). Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas perempuan dI Indonesia memilih bidan sebagal tenaga kesehatan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dan hak-haknya. Diperkuat dengan Iahirnya UU No.4 Tahun 2019 tentang Kebidanan yang memberikan kepastian hukum bagi masyarakat dan bidan sebagai pemberi maupun penerlma layanan kebidanan.

“DI Kanada, sepertl halnya dl Indonesia, bidan memainkan peran penting sebagai penyedia layanan kesehatan yang berpusat pada perempuan.

Kanada percaya bahwa memperkuat peran bidan pentlng untuk menegakkan hak atas layanan kesehatan seksual dan reproduksi bagi perempuan dan remaja. Ketlka wanlta dan remaja, terutama anak perempuan memiliki kendall atas keputusan mengenal kehIdupan reproduksmya, angka kematian dan kesakitan ibu dan anak menurun dan keluarga berkembang, ”kata Peter MacArthur, Duta Besar Kanada untuk Indonesia.

Data SDKI 2017, Angka Kematlan Bayi Baru Lahir (AKB) di Indonesia masih tinggi, dan estimasi tahun 2015 menunjukkan bahwa Angka Kematian Ibu (AKI) masih tinggi (Supas 2015). “Seyogyanya kematian Ibu maupun bayi baru lahir dapat dlhindarkan Iewat tersedianya layanan kesehatan yang bermutu dan mudah dijangkau, dalam hal ini tersedianya bidan berkompeten di tengah masyarakat, mudah diakses, dan didukung dengan fasilitas yang memadai.

Bidan memiliki peran penting untuk menurunkan AKI dan AKB.” kata Emi Nurjasmi Ketua Umum IBI Pusat di acara seminar Hari Bidan Sedunia 2019 bertema “Perempuan dan remaja perempuan berhak atas akses layanan kesehatan seksual dan reproduksi.”

Selain itu, 1 dari 10 perempuan tidak terpenuhi kebutuhan ber-KB-nya (SDKI 2017) dan ha| inl sesungguhnya dapat dijawab oleh ketersediaan tenaga bidan yang terlatih dalam memberikan layanan kontrasepsi, di samping dukungan ketersediaan alat kontrasepsi. “Perbaikan layanan kesehatan dapat dicapai dengan peningkatan kapasitas bidan untuk memberikan layanan kesehatan yang bermutu, penguatan mekanisme rujukan dan pembiayaannya; insentif yang memadai bagi bidan untuk penjangkauan layanan ke seluruh wilayah di Indonesia, serta berbagai kesempatan untuk perkembangan karir bidan,”je|as Mr. Najib Assif‘l, Kepala Perwakilan UNFPA (ad interim).

Pengalaman di Pasca Bencana

Di pasca bencana dan krisis kesehatan, bidan segera dikerahkan untuk tersedianya akses cepat layanan kesehatan reproduksi yang menyelamatkan jiwa, khususnya bagi para perempuan hamil, melahirkan dan bayi baru lahir yang terdampak bencana.

Pelayanan bidan terlatih melalui 15 tenda/klinik Kespro yang dikelola oleh Subklastel Kespro di bawah Kementenan Kesehatan dan Dinas Kesehatan dengan dukungan UNFPA DFAT dan Americares dapat melayani 4.650 pemeriksaan kehamilan, 379 kelahiran dar 1,656 layanan KB selama periode Oktober 2018 Maret 2019. “Dengan segala keterbatasan di pasca bencana, pelayanan bidan terlatih di tenda/klinik Kespro berhas mencegah terjadinya kematian ibu dl semua area yang dilayani oleh setiap tenda/klini Kespro di 3 Kabupaten/Kota terdampak gempa, liquefaksi dan tsunami pada tanggal 2 Okt.2018 di Sulawesi Tengah,” papar Dr. Melania Hidayat, UNFPA Assistar Representative.(Mulyawan)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *